Srinivasa Ramanujan dan Intuisi Matematika dalam film The Man Who Knew Infinity

The-Man-Who-Knew-Infinity-poster
Source : Amandoblogs.com

Banyak orang yang menganggap matematik adalah monster dari semua pelajaran yang kita pelajari, kesulitan menghafal rumus dan kesalahan menghitung seringkali menjadi hal yang umum dalam mempelajarinya. Akan tetapi  sejatinya Matematika adalah cara bernalar. Dalam sejarah, ada banyak tokoh besar matematika yang justru menjadi hebat karena bukan berasal dari pendidikan matematika formal dan Srinivasa Ramanujan adalah salah satunya dan yang lebih luar biasanya lagi dia adalah seorang India. mengapa bisa demikian? Mengapa orang yang bukan berasal dari fakultas matematika bisa menjadi tokoh besar matematika? Apakah keajaiban? Film The Man Who Knew Infinity ini menerangkan sedekat mungkin atas hal ini.

Kalau kita pernah belajar tentang deret ukur dan deret ukur atau hypotrigonometri, Ramanujan ini besar sekali sumbangannya terhadap hal tersebut, atau yang menyenangi hiperbola, persamaan asimtot dialah orang yang berjasa mengembangkannya. Berasal dari kaum Brahmana miskin di Madras India, Ramanujan lahir hanya untuk belajar matematika, bahkan pada usia 17 tahun yang saya lulus SMA saja belum dia sudah melakukan melakukan penelitian dalam bilangan Bernoulli dan konstanta Euler-Macheroni dan berhasil memecahkannya, kata salah seorang pembimbingnya yang bernama J.E Litlewood, Ramanujan mengerjakan sebuah pekerjaan yang seharusnya akan diselesaikan dalam satu abad sehingga oleh G.E Hardy pembimbing sekaligus sahabat terbaiknya Ramanujan setara dengan ahli matematika sekelas Euler, Newton, Gauss, dan Archimedes.

Tapi hal tersebut dilakukannya tidak dengan mudah, karena sebagai otodidak, Ramanujan mampu menyelesaikan sebuah soal matematika dengan cepat akan tetapi langsung pada rumus intinya, tidak melalui satu proses panjang yang umum dilakukan para ilmuwan kala itu, dan ketika ditanya oleh G.E Hardy, Ramanujan menjawab yang mengajari dan membisikanya adalah Tuhannya, Dewa Namagiri dan menerima penjelasan itu Hardy yang atheis hanya bisa terdiam dan mulai mempertanyakan konsistensinya pada hal yang diyakininya selama ini.

Film  ini sangat luar biasa, walaupun bermain dengan tempo yang sangat lambat tetapi saya pribadi menikmatinya sangat enjoy, mulai dari konfliknya sebagai seorang Brahmana, pernikahannya di usia yang sangat muda, apalagi tuntutan pembuktian atas semua tulisan dan rumusan yang dibuatnya masih diragukan oleh para Fellow di Cambridge ketika itu.

Film ini benar-benar menggambarkan kepribadian seorang yang sangat hebat, walaupun di film ini tidak berani bermain pada angka-angka yang coba dipecahkannya pada masa lampau akan tetapi kehadiran film ini begitu sangat menggugah bagaimana seorang India yang dikucilkan di Cambridge karena status Indianya, atau rumus yang sudah ditemukannya dituntut untuk pembuktian karena harus sesuai dengan metode ilmiah kala itu dan Ramanujan resmi sudah menjadi salah satu Ilmuwan kesukaan saya selain Alva Edison.

Selamat Menonton, sangat rugi untuk tidak dilihat dan biarkan intuisi matemarika Ramanujan merasuk dalam jiwa kita sebagai bagian dari sosok manusia kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *